30 Maret 2010

Sekilas Tentang Filsafat



Filsafat adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan dijabarkan dalam konsep mendasar. Filsafat tidak didalami dengan melakukan eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan masalah secara persis, mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu. Akhir dari proses-proses itu dimasukkan ke dalam sebuah proses dialektika. Untuk studi falsafi, mutlak diperlukan logika berpikir dan logika bahasa.

Logika merupakan sebuah ilmu yang sama-sama dipelajari dalam matematika dan filsafat. Hal itu membuat filasafat menjadi sebuah ilmu yang pada sisi-sisi tertentu berciri eksak di samping nuansa khas filsafat, yaitu spekulasi, keraguan, rasa penasaran dan ketertarikan. Filsafat juga bisa berarti perjalanan menuju sesuatu yang paling dalam, sesuatu yang biasanya tidak tersentuh oleh disiplin ilmu lain dengan sikap skeptis yang mempertanyakan segala hal.

A.     Pengertian filsafat secara etimologis
Kata filsafat berasal dari bahasa yunani adalah philosophia. Philosophia kata ini merupakan kata majemuk dan berasal dari kata-kata (philia = persahabatan, cinta dsb.) dan (sophia = "kebijaksanaan"). Sehingga arti harafiahnya adalah seorang “Pencinta Kebijaksanaan”. Dalam bahasa Indonesia seseorang yang mendalami bidang falsafah disebut "Filsuf". Secara Terminologis filsafat adalah ilmu yang berusaha untuk mencapai pengetahuan tentang kebenaran yang asli.

B.    Sejarah Singkat Filsafat
Filsafat, terutama Filsafat barat muncul di Yunani semenjak kira-kira abad ke 7 S.M. Filsafat muncul ketika orang-orang mulai memikirkan dan berdiskusi akan keadaan alam, dunia, dan lingkungan di sekitar mereka dan tidak menggantungkan diri kepada agama lagi untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini.
Banyak yang bertanya-tanya mengapa filsafat muncul di Yunani dan tidak di daerah yang beradab lain kala itu seperti Babilonia, Yudea (Israel) atau Mesir. Jawabannya sederhana, karena di Yunani, tidak seperti di daerah lain-lainnya tidak ada kasta pendeta sehingga secara intelektual orang lebih bebas.
Orang Yunani pertama yang bisa diberi gelar filsuf ialah Thales dari Mileta, sekarang di pesisir barat Turki. Tetapi filsuf-filsuf Yunani yang terbesar tentu saja ialah: Sokrates, Plato dan Aristoteles. Sokrates adalah guru Plato sedangkan Aristoteles adalah murid Plato. Bahkan ada yang berpendapat bahwa sejarah filsafat tidak lain hanyalah “Komentar-komentar karya Plato belaka”. Hal ini menunjukkan pengaruh Plato yang sangat besar pada sejarah filsafat.
Buku karangan plato yg terkenal adalah berjudul "etika, republik, apologi, phaedo, dan krito".
Sejarah Filasafat Barat
Sejarah Filsafat Barat bisa dibagi menurut pembagian berikut: Filsafat Klasik, Abad Pertengahan, Modern dan Kontemporer.

1.      Klasik

"Pra Sokrates": Thales - Anaximander - Anaximenes - Pythagoras - Xenophanes - Parmenides - Zeno - Herakleitos - Empedocles -Democritus - Anaxagoras
"Zaman Keemasan": Sokrates - Plato - Aristoteles

2.      Abad Pertengahan

"Skolastik": Thomas Aquino

3.      Modern

Machiavelli - Giordano Bruno - Francis Bacon - Rene Descartes - Baruch de Spinoza- Blaise Pascal - Leibniz - Thomas Hobbes - John Locke - George Berkeley - David Hume - William Wollaston - Anthony Collins - John Toland - Pierre Bayle - Denis Diderot - Jean le Rond d'Alembert - De la Mettrie - Condillac - Helvetius - Holbach - Voltaire - Montesquieu - De Nemours - Quesnay - Turgot - Rousseau -Thomasius - Ch Wolff - Reimarus - Mendelssohn - Lessing - Georg Hegel - Immanuel Kant - Fichte - Schelling - Schopenhauer - De Maistre - De Bonald - Chateaubriand - De Lamennais - Destutt de Tracy - De Volney - Cabanis - De Biran - Fourier - Saint Simon -Proudhon - A. Comte - JS Mill - Spencer - Feuerbach - Karl Marx - Soren Kierkegaard - Friedrich Nietzsche - Edmund Husserl

4.      Kontemporer

Jean Baudrillard - Michel Foucault - Martin Heidegger - Karl Popper - Bertrand Russell - Jean-Paul Sartre - Albert Camus - Jurgen Habermas - Richard Rotry - Feyerabend- Jacques Derrida - Mahzab Frankfurt

C.    Filsafat dan Agama
1.      Kesamaan antara filsafat dan agama adalah berusaha mencari kebenaran.
2.      Perbedaan antara filsafat dan agama :
a)     Filsafat
§        Bersumber dari akal.
§        Kebenarannya bersifat relatif.
b)     Agama
§         Bersumber dari wahyu.
§         Kebenarannya bersifat mutlak.
3.      Hubungan filsafat dan agama
Filsafat yunani muncul terpisah dari agama yunani yang penuh dengan mitos. Para ahli kalam di dunia islam dan para ahli teologi di Barat telah menjadikan filsafat sebagai “tameng” pertahanan keyakinan agama dengan segala argumentasi rasionalnya,selain untuk menopang keimanan.

D.    Cara Membedakan Filsafat
Plato (sebelah kiri) dan Aristotle (kanan), menurut lukisan Raffaelo Sanzio pada tahun 1509. Dalam membangun tradisi filsafat banyak orang mengajukan pertanyaan yang sama , menanggapi, dan meneruskan karya-karya pendahulunya sesuai dengan latar belakang budaya, bahasa, bahkan agama tempat tradisi filsafat itu dibangun. Oleh karena itu, filsafat biasa diklasifikasikan menurut daerah geografis dan latar belakang budayanya.
Dewasa ini filsafat biasa dibagi menjadi dua kategori besar menurut wilayah dan menurut latar belakang agama. Menurut wilayah bisa dibagi menjadi: “Filsafat Barat”, “Filsafat Timur”, dan “Filsafat Timur Tengah. Sementara latar belakang agama dibagi menjadi: “Filsafat Islam, “Filsafat Budha, “Filsafat Hindu, dan “Filsafat Kristen.
1.      Filsafat Barat
Filsafat Barat adalah ilmu yang biasa dipelajari secara akademis di universitas-universitas di Eropa dan daerah-daerah jajahan mereka. Filsafat ini berkembang dari tradisi filsafat orang Yunani kuno. Tokoh utama filsafat Barat antara lain Plato, Thomas Aquinas, Réne Descartes, Immanuel Kant, Georg Hegel, Arthur Schopenhauer, Karl Heinrich Marx, Friedrich Nietzsche, dan Jean-Paul Sartre.
Dalam tradisi filsafat Barat, dikenal adanya pembidangan dalam filsafat yang menyangkut tema tertentu:
a)  Metafisika mengkaji hakikat segala yang ada. Dalam bidang ini, hakikat yang ada dan keberadaan (eksistensi) secara umum dikaji secara khusus dalam Ontologi. Adapun hakikat manusia dan alam semesta dibahas dalam Kosmologi.
b)   Epistemologi mengkaji tentang hakikat dan wilayah pengetahuan (episteme secara harafiah berarti “pengetahuan”). Epistemologi membahas berbagai hal tentang pengetahuan seperti batas, sumber, serta kebenaran suatu pengetahuan.
c)  Aksiologi membahas masalah nilai atau norma yang berlaku pada kehidupan manusia. Dari aksiologi lahirlah dua cabang filsafat yang membahas aspek kualitas hidup manusia: etika dan estetika.
d)  Etika, atau filsafat moral, membahas tentang bagaimana seharusnya manusia bertindak dan mempertanyakan bagaimana kebenaran dari dasar tindakan itu dapat diketahui. Beberapa topik yang dibahas di sini adalah soal kebaikan, kebenaran, tanggung jawab, suara hati, dan sebagainya.
e)  Estetika membahas mengenai keindahan dan implikasinya pada kehidupan. Dari estetika lahirlah berbagai macam teori mengenai kesenian atau aspek seni dari berbagai macam hasil budaya.
2.      Filsafat Timur
Filsafat Timur adalah tradisi falsafi yang terutama berkembang di Asia, khususnya di India, Republik Rakyat Cina dan daerah-daerah lain yang pernah dipengaruhi budayanya. Sebuah ciri khas Filsafat Timur ialah dekatnya hubungan filsafat dengan agama. Meskipun hal ini kurang lebih juga bisa dikatakan untuk Filsafat Barat, terutama di Abad Pertengahan, tetapi di Dunia Barat filsafat an sich masih lebih menonjol dari pada agama. Nama-nama beberapa filsuf Timur, antara lain Siddharta Gautama/Buddha, Bodhidharma, Lao Tse,Kong Hu Cu, Zhuang Zi dan juga Mao Zedong.
3.      Filsafat Timur Tengah 
   Filsafat Timur Tengah dilihat dari sejarahnya merupakan para filsuf yang bisa dikatakan juga merupakan ahli waris tradisi Filsafat Barat. Sebab para filsuf Timur Tengah yang pertama-tama adalah orang-orang Arab atau orang-orang Islam dan juga beberapa orang Yahudi, yang menaklukkan daerah-daerah di sekitar Laut Tengah dan menjumpai kebudayaan Yunani dengan tradisi falsafah mereka. Lalu mereka menterjemahkan dan memberikan komentar terhadap karya-karya Yunani. Bahkan ketika Eropa setalah runtuhnya Kekaisaran Romawi masuk ke Abad Pertengahan dan melupakan karya-karya klasik Yunani, para filsuf Timur Tengah ini mempelajari karya-karya yang sama dan bahkan terjemahan mereka dipelajari lagi oleh orang-orang Eropa. Nama-nama beberapa filsuf Timur Tengah adalah Ibnu Sina, Ibnu Tufail, Kahlil Gibran dan Averroes.
4.      Filsafat Islam
Filsafat Islam merupakan filsafat yang seluruh cendekianya adalah muslim. Ada sejumlah perbedaan besar antara filsafat Islam dengan filsafat lain. Pertama, meski semula filsuf-filsuf muslim klasik menggali kembali karya filsafat Yunani terutama Aristoteles dan Plotinus, namun kemudian menyesuaikannya dengan ajaran Islam. Kedua, Islam adalah agama tauhid. Maka, bila dalam filsafat lain masih 'mencari Tuhan', dalam filsafat Islam justru Tuhan 'sudah ditemukan, dalam arti bukan berarti sudah usang dan tidak dbahas lagi, namun filsuf islam lebih memusatkan perhatiannya kepada manusia dan alam, karena sebagaimana kita ketahui, pembahasan Tuhan hanya menjadi sebuah pembahasan yang tak pernah ada finalnya.
5.      Filsafat Kristen
Filsafat Kristen mulanya disusun oleh para bapa gereja untuk menghadapi tantangan zaman di abad pertengahan. Saat itu dunia barat yang Kristen tengah berada dalam zaman kegelapan (dark age). Masyarakat mulai mempertanyakan kembali kepercayaan gamanya. Filsafat Kristen banyak berkutat pada masalah ontologis dan filsafat ketuhanan. Hampir semua filsuf Kristen adalah teologian atau ahli masalah agama. Sebagai contoh: Santo Thomas Aquinas dan Santo Bonaventura

E.  Pengetahuan adalah keseluruhan gagasan, pemikiran, ide, konsep dan pemahaman manusia tentang sesuatu sejauh belum disistematisasikan dan belum di bakukan.
Menurut polanya, pengetahuan di bedakan menjadi 4 macam :
1.      Pengetahuan Tahu Bahwa :
Bersifat informatif, Misalnya : Saya tahu bahwa presiden pertama R.I. adalah Soekarno.
2.      Pengetahuan Tahu Bagaimana :
Bersifat praktis, misalnya : Saya tahu bagaimana memperbaiki komputer yang rusak.
3.      Pengetahuan Tahu Akan/Mengenai :
Bersifat subyektif, maksudnya pengetahuan ini diperoleh berdasarkan sebuah pengalaman dan keterlibatan langsung dan bersifat personal dengan apa yang di ketahui.
Misalnya : Saya tahu tentang sesuatu karena saya mempunyai pengalaman dengan sesuatu itu.
4.      Pengetahuan Tahu Mengapa :
Bersifat teoritis, memuat penjelasan menyangkut hubungan sebab akibat.
Misalnya : Mengapa sesuatu itu terjadi ?

F.     Rasionalisme
Inti dari pandangan rasionalisme adalah bahwa hanya dengan menggunakan prosedur tertentu dari akal saja kita bisa sampai pada pengetahuan yang sebenarnya, yaitu pengetahuan yang tidak mungkin salah. Menurut kaum rasionalis, sumber pengetahuan, bahkan satu-satunya, adalah akal budi manusia. Untuk meninjau lebih jauh paham rasionalisme ini, ada baiknya kita tinjau pemikiran dua tokoh penting dari paham ini, yaitu Plato dan Rene Descartes.
1.      Plato (428-348 SM)
Satu-satunya pengetahuan sejati adalah apa yang disebut sebagai Episteme, yaitu pengetahuan tunggal dan tidak berubah sesuai dengan ide-ide abadi. Hanya ide-ide saja yang bersifat nyata dan sempurna. Apa yang kita tangkap melalui panca indera hanya merupakan tiruan dari ide-ide tertentu yang abadi.
Dengan demikian untuk mengetahui sesuatu, menyelidiki sesuatu dan untuk sampai pada pengetahuan abadi, kita hanya mengandalkan akal budi yang sudah mengenal ide abadi.
2.      Rene Descartes (1596-1650 M)
Kita harus meragukan segala sesuatu yang kita tangkap dengan panca indera sampai akhirnya kita tidak bisa lagi meragukan hal itu. Ini adalah kebenaran atau pengetahuan yang benar. Ini kita lakukan dengan mengandalkan akal budi atau dengan berfikir.

G.    4 Teori Kebenaran :
1.  Teori Kebenaran Sebagai Persesuaian. Kebenaran adalah persesuaian antara pernyataan (proposisi) dengan kenyataan.
Contoh : bumi ini bulat.
2.      Teori Kebenaran Sebagai Keteguhan.
Kebenaran tidak di temukan dalam kenyataan, tetapi dalam realisasi antara proposisi yang satu dengan yang lain atau proposisi sebelumnya.
Contoh :
Semua manusia pasti mati (1)
Sokrates adalah manusia (2)
Sokrates pasti mati(3)
Teori ini dianut oleh aliran rasionalisme.
3.      Teori Kebenaran Pramatis.
Kebenaran sama artinya dengan kegunaan. Dengan kata lain, berhasil dan berguna adalah kriteria utama untuk menentukan apakah suatu ide itu benar atau tidak.
Contoh : Penerapan 3 in 1 untuk mengatasi kemacetan.
Teori ini dianut oleh aliran pragmatisme.
4.      Teori Kebenaran Performatif.
Pernyataan dianggap benar apabila pernyataan itu berhasil menciptakan realitas.
Contoh : Saya mengangkat kamu menjadi gubernur DKI Jakarta.
Teori ini di anut oleh John Austin & Frank Ramsey.

H.  Induksi adalah kerja ilmu pengetahuan yang bertolak dari sejumlah proposisi tunggal atau partikular tertentu untuk menarik kesimpulan umum.
3 hal pokok induksi gaya Bacon :
1.   Ketika mengadakan penelitian ilmiah, ilmuwan harus bebas dari segala macam spekulasi awal, yang dapat memperdayanya dalam mengamati obyek penelitian.
2.      Ilmuwan harus memperhatikan fakta dan data yang bertentangan satu sama lain.
3.  Setelah mengamati obyek sebagaimana adanya, dan mengumpulkan fakta dan data tentang obyek itu, fakta dan data tersebut di evaluasi, diklasifikasi, dirumuskan dan disimpulkan. Jadi baru pada tingkat inilah ilmuwan dapat menggunakan berbagai konsep dan teori untuk mengolah data dan fakta.
8 Langkah-langkah metode induksi :
Metode induksi murni : Metode induksi yang telah dimodifikasi :
1.      Identifikasi masalah
2.      Pengamatan & pengumpulan data
3.      Merumuskan hipotesis
4.      Pengujian hipotesis -Adanya situasi masalah
5.      Pengajuan hipotesis
6.      Penelitian lapangan
7.      Pengujian hipotesis
metode filsafat ada 3 yaitu :
1.      Metode dialektika : Socrates & Plato
Metode ini bersifat praktis dan di jalankan dalam berbagai percakapan (dialog). tidak menyelidiki fakta, melainkan menganalisa pendapat. dengan cara dialog ini, Socrates menemukan suatu cara berfikir induktif yaitu dari hal-hal khusus di peroleh kesimpulan yang bersifat umum.
2.      Metode Skolastik : Aristoteles
Bersifat deduktif. dengan bertitik tolak dari definisi atau prinsip-prinsip yang jelas, lalu di tarik kesimpulan.
3.      Metode Dialektis : Hegel & Karl Marx
Jalan untuk memahami kenyataan bagi hegel adalah mengikuti gerakan pemikiran atau konsep. dialektis ini di ungkapkan sebagai 3 langkah, yaitu dua pengertian yang bertentangan kemudian di damaikan (tesis - anti tesis - sintesis)

Catatan Kaki
1.      Irmayanti Meliono, dkk. 2007. MPKT Modul 1. Jakarta: Lembaga Penerbitan FEUI. hal. 1

18 Februari 2010

Imajinasi


Aku tau kalian semua sudah bisa membaca, 
setelah bisa membaca maka langkah selanjutnya
secara proporsional adalah memahami kata-perkata,
kalimat-perkalimat, dan akhirnya konteks/seluruh isi tulisan
secara menyeluruh, jangan setengah2 karena akan menyesatkan.

Karena menulis adalah memberi, berkontribusi bukan hanya kepada diri sendiri namun juga kepada orang lain.
Secara positif, menulis adalah hadiah dari penulis untuk para pembacanya.

Aku menulis, karena itu aku ada.
dengan menulis keberadaanku menjadi lebih bermakna dan lebih kaya nilainya.
Sungguh suatu kebanggaan yang tak terkira
dan kepuasan batin yang tak terkatakan. itu buat aq ^_^

Dengan menulis maka aku; secara langsung dan tak langsung
ikut berkontribusi membangun dunia,
menginspirasi dunia, mempengaruhi cara pikir dunia.

Aku jelas bukan orang hebat yang bisa disandingkan dengan
orang-orang sekelas Plato, Sokrates, Aristoteles, Karl Marx,
serta ratusan bahkan ribuan penulis dahsyat lainnya;
aku belum dan mungkin tidak akan pernah mendekati atau mencapai
kemampuan kreasi mereka, dimana mereka memiliki pemikiran-pemikiran
nan mendalam juga karya - karya “pena” yang legendaris serta signifikan bagi dunianya masing-masing.

Berbagi perasaan senang, gelisah, juga berbagi opini dalam banyak hal. Jika ada yang menganggap tulisanku adalah sampah, itu kalian sebagai “pembeli”, dan jika ada yang merasa tulisanku bisa membantu membuat kalian teman2 ku menjalani hidup lebih baik walau hanya barang setiti...k saja, sudah memberi suatu kebahagaiaan tersendiri. Bagi batin ku ^_^

Aku suka menulis, suka berbagi isi kepalaku dengan dunia. Dengan tulisan aku bisa menggugah emosi pembaca, merayunya, membuatnya tersenyum, melotot, marah, emosi atau bahkan menangis.

Bagiku menulis adalah salah satu anugerah terbaik
dalam kehidupan ini suatu keindahan yang tak tergantikan.
Karena daya interpretasi seseorang atas sebuah tulisan itu berbeda dan tanpa batas. dan itu semua tergantung dimana mereka dibesarkan, bermain dan belajar. ^_^

Ada efek-efek tanpa batas yang terpancar bagaikan radiasi yang tak terlihat oleh mata, namun menembus dalam kepada dimensi pemikiran seseorang.
Menulis adalah komunikasi yang praktis dan awet. Secara wajar,
walau aku telah tiada, namun tulisan-tulisanku mampu tinggal tetap,
sampai peradaban atau dunia musnah barulah mereka akan ikut lenyap.

Tulisan adalah warisan, warisan yang akan terus mengalir dari generasi ke generasi. kalo kita lihat saja kitab-kitab yang usianya bisa mencapai ribuan tahun. Mereka telah menjadi saksi bisu akan perjalanan waktu dari generasi ke generasi, dari suatu dinasti ke dinasti lainnya, dari rezim yang satu ke rezim lainnya.

Dari ranah spiritualitas dan religiusitas, itu pula yang dilakukan oleh para Nabi dan Rasul. Mereka adalah penulis, itu salah satu profesi absolut mereka.
Dalam dunia tulis-menulis selalu ada yang namanya berbagi; entah itu informasi,
ekpresi perasaan, karya ilmiah, fiksi, s...ampai provokasi, dan juga teror.

Seperti tato di kulit, tulisan akan sulit untuk hilang jika sudah menyentuh dan
menyelam sampai membuat pikiran manusia “terangsang” begitu hebatnya atas
asosiasi-asosiasi yang dipaparkan dalam suatu tulisan.
selama masih “bernafas” tak pernah akan berhenti ku menulis.

Apa maksudku menulis tulisan semua inii? Yah, seperti kataku tadi,
cuma ingin berbagi hahaha..... ^_^ Menulis, apa lagi yang hendak kutulis? Isi kepalaku tentu, yang akan selalu sibuk selama aku hidup, dan selama tubuh ini masih sehat.

Ingat Kawan2 tulisan itu hidup, karena manusia hidup dari apa yang tertulis
dari yang sudah ada dan yang akan ada. Menulis membangun dunia,
menulis adalah hadiah, menulislah dan Kalian akan meninggalkan
warisan dan jejak yang cukup konkrit, bahwa kalian semua pernah hadir dan berbagi di dunia ini.


31 Januari 2010

Refleksi


Aku takut sendirian sampai aku belajar seperti diriku.
Aku takut kegagalan sampai aku menyadari bahwa aku hanya gagal jika saya tidak mencoba.
Aku takut kesuksesan sampai aku menyadari bahwa aku harus mencoba untuk menjadi bahagia dengan diriku
Aku takut pendapat orang sampai aku belajar bahwa orang-orang punya pendapat tentang aku.

Aku takut penolakan, sampai aku belajar untuk memiliki iman dalam diriku sendiri.
Aku takut sakit sampai aku belajar bahwa itu perlu untuk pertumbuhan.
Aku takut kebenaran sampai aku melihat keburukan dalam kebohongan
Aku takut hidup sampai aku mengalami keindahannya.

Aku takut pada kematian sampai saya menyadari bahwa itu bukanlah suatu akhir, tapi sebuah awal.
Aku takut takdir saya, sampai saya menyadari bahwa aku memiliki kekuatan untuk mengubah hidup saya.
Aku takut benci sampai aku melihat bahwa semuanya itu tidak lebih dari kebodohan.
Aku takut cinta sampai menyentuh hatiku, membuat kegelapan memudar menjadi tak berujung cerah hari.

Aku takut ejekan sampai saya belajar bagaimana untuk tertawa pada diriku sendiri.
Aku takut menjadi tua sampai saya menyadari bahwa saya memperoleh kebijaksanaan setiap hari.
Aku takut masa depan sampai aku sadar bahwa hidup terus membaik.
Aku takut masa lalu sampai aku menyadari bahwa hal itu tidak bisa lagi menyakitiku.

Aku takut gelap sampai aku melihat keindahan cahaya bintang.
Aku takut cahaya, sampai aku belajar bahwa kebenaran akan memberiku kekuatan.
Setiap hal jika kita pelajari dengan positif, akan ada hikmah yang terkandung didalam setiap peristiwa. Positiflah dalam melihat segala sesuatu.. ada pelajaran yang dapat kita ambil


Kita tak bisa mengubah apa pun yang telah terjadi.
Kita tak bisa menarik perkataan yang telah terucapkan.
Kita tak mungkin lagi menghapus kesalahan dan mengulangi kegembiraan yang Kita rasakan kemarin.
Biarkan hari kemarin lewat dan beristirahat dengan tenang; lepaskan saja…

Kita tak tahu apa yang akan terjadi.
Kita tak bisa melakukan apa-apa esok hari.
Kita tak mungkin sedih atau ceria di esok hari.
Esok hari belum tiba; toh belum tentu esok hari Kita merengkuhnya biarkan saja…

Kita dapat mengerjakan lebih banyak hal hari ini bila
Kita mampu memaafkan hari kemarin dan melepaskan ketakutan akan esok hari.
Kita tak bisa mengubah apa pun yang telah terjadi.
Kita tak bisa menarik perkataan yang telah terucapkan.

Yang tersisa kini hanyalah hari ini.
Pintu masa lalu telah tertutup,
Pintu masa depan pun belum tiba.
Pusatkan saja diri Kita untuk hari ini.

03 Januari 2010

ANAXIMANDROS


Anaximandros adalah seorang filsuf dari Mazhab Miletos dan merupakan murid dariThales. Seperti Thales, dirinya dan Anaximenes tergolong sebagai filsuf-filsuf dari Miletos yang menjadi perintis filsafat Barat. Anaximandros adalah filsuf pertama yang meninggalkan bukti tulisan berbentuk prosa. Akan tetapi, dari tulisan Anaximandros hanya satu fragmen yang masih tersimpan hingga kini.











Peta Bumi Menurut Anaximandros

Riwayat Hidup
Menurut Apollodorus, seorang penulis Yunani kuno, Anaximandros (610-546 SM) telah berumur 63 tahun pada saat Olimpiade ke-58 yang dilaksanakan tahun 547/546 SM. Karena itu, diperkirakan Anaximandros lahir sekitar tahun 610 SM. Kemudian disebutkan pula bahwa Anaximandros meninggal tidak lama setelah Olmpiade tersebut usai, sehingga waktu kematiannya diperkirakan pada tahun 546 SM.
Menurut tradisi Yunani kuno, Anaximandros memiliki jasa-jasa di dalam bidang astronomi dan geografi. Misalnya saja, Anaximandros dikatakan sebagai orang yang pertama kali membuat peta bumi. Usahanya dalam bidang geografi dapat dilihat ketika ia memimpin ekspedisi dari Miletos untuk mendirikan kota perantauan baru ke Apollonia di Laut Hitam. Selain itu, Anaximandros telah menemukan, atau mengadaptasi, suatu jam matahari sederhana yang dinamakan gnomon. Ditambah lagi, ia mampu memprediksi kapan terjadi gempa bumi. Kemudian ia juga menyelidiki fenomena-fenomena alam seperti gerhana, petir, dan juga mengenai asal mula kehidupan, termasuk asal-mula manusia. Kendati ia lebih muda 15 tahun dari Thales, namun ia meninggal dua tahun sebelum gurunya itu.

Pemikiran
To Apeiron sebagai prinsip dasar segala sesuatu
Meskipun Anaximandros merupakan murid Thales, namun ia menjadi terkenal justru karena mengkritik pandangan gurunya mengenai air sebagai prinsip dasar (arche) segala sesuatu. Menurutnya, bila air merupakan prinsip dasar segala sesuatu, maka seharusnya air terdapat di dalam segala sesuatu, dan tidak ada lagi zat yang berlawanan dengannya. Namun kenyataannya, air dan api saling berlawanan sehingga air bukanlah zat yang ada di dalam segala sesuatu. Karena itu, Anaximandros berpendapat bahwa tidak mungkin mencari prinsip dasar tersebut dari zat yang empiris. Prinsip dasar itu haruslah pada sesuatu yang lebih mendalam dan tidak dapat diamati oleh panca indera. Anaximandros mengatakan bahwa prinsip dasar segala sesuatu adalah to apeiron.
To apeiron berasal dari bahasa Yunani a=tidak dan eras=batas. Ia merupakan suatu prinsip abstrak yang menjadi prinsip dasar segala sesuatu. Ia bersifat ilahi, abadi, tak terubahkan, dan meliputi segala sesuatu. Dari prinsip inilah berasal segala sesuatu yang ada di dalam jagad raya sebagai unsur-unsur yang berlawanan (yang panas dan dingin, yang kering dan yang basah, malam dan terang). Kemudian kepada prinsip ini juga semua pada akhirnya akan kembali.

Pandangan tentang Alam Semesta











Alam Semesta Menurut Anaximandros


Dengan prinsip to apeiron, Anaximandros membangun pandangannya tentang alam semesta. Menurut Anaximandros, dari to apeiron berasal segala sesuatu yang berlawanan, yang terus berperang satu sama lain. Yang panas membalut yang dingin sehingga yang dingin itu terkandung di dalamnya. Dari yang dingin itu terjadilah yang cair dan beku. Yang beku inilah yang kemudian menjadi bumi. Api yang membalut yang dingin itu kemudian terpecah-pecah pula. Pecahan-pecahan tersebut berputar-putar kemudian terpisah-pisah sehingga terciptalah matahari, bulan, dan bintang-bintang. Bumi dikatakan berbentuk silinder, yang lebarnya tiga kali lebih besar dari tingginya. Bumi tidak jatuh karena kedudukannya berada pada pusat jagad raya, dengan jarak yang sama dengan semua benda lain.
Mengenai bumi, Thales telah menjelaskan bahwa bumi melayang di atas lautan. Akan tetapi, perlu dijelaskan pula mengenai asal mula lautan. Anaximandros menyatakan bahwa bumi pada awalnya dibalut oleh udara yang basah. Karena berputar terus-menerus, maka berangsur-angsur bumi menjadi kering. Akhirnya, tinggalah udara yang basah itu sebagai laut pada bumi.

Pandangan tentang Makhluk Hidup
Mengenai terjadinya makhluk hidup di bumi, Anaximandros berpendapat bahwa pada awalnya bumi diliputi air semata-mata. Karena itu, makhluk hidup pertama yang ada di bumi adalah hewan yang hidup dalam air, misalnya makhluk seperti ikan. Karena panas yang ada di sekitar bumi, ada laut yang mengering dan menjadi daratan. Di ditulah, mulai ada makhluk-makhluk lain yang naik ke daratan dan mulai berkembang di darat. Ia berargumentasi bahwa tidak mungkin manusia yang menjadi makhluk pertama yang hidup di darat sebab bayi manusia memerlukan asuhan orang lain pada fase awal kehidupannya. Karena itu, pastilah makhluk pertama yang naik ke darat adalah sejenis ikan yang beradaptasi di daratan dan kemudian menjadi manusia.

Referensi
1.      Simon Petrus L. Tjahjadi. 2004. Petualangan Intelektual. Yogyakarta: Kanisius. Hal. 21-22.
2.      Jonathan Barnes. 2001. Early Greek Philosophy. London: Penguin.
3.      K. Bertens. 1990. Sejarah Filsafat Yunani. Yogyakarta: Kanisius. Hal. 28-31.
4.  Richard McKirahan. 2003. "Presocratic Philosophy". In The Blackwell Guide to Ancient Philosophy. Christopher Shields (Ed.). Malden: Blackwell Publishing.
5.      Juhaya S. Praja. 2005. Aliran-Aliran Filsafat dan Etika. Jakarta: Kencana. Hal. 75-77.
6.      According to John Mansley Robinson, An Introduction to Early Greek Philosophy, Houghton and Mifflin, 1968.
7.      Charles H. Kahn. 1972. "Anaximander". In The Encyclopedia of Philosophy Volume 1. Paul Edwards (Ed.). New York: Macmillan Publishing & The Free Press.
resep donat empuk ala dunkin donut resep kue cubit coklat enak dan sederhana resep donat kentang empuk lembut dan enak resep es krim goreng coklat kriuk mudah dan sederhana resep es krim coklat lembut resep bolu karamel panggang sarang semut